Armadaberita.com | MEDAN – Menulis bukan hanya urusan wartawan, sastrawan, atau akademisi. Di balik papan tulis dan setumpuk skenario pembelajaran, guru punya segudang pengalaman, ide, dan keteladanan yang layak dibaca banyak orang.
Hal inilah yang ditegaskan oleh Mardi Panjaitan, S.Pd., M.Si., Kepala SLB Negeri Pembina, sekaligus penulis buku Guru Olahraga di Atas Garis dan buku teks PJOK Kemdikbud tahun 2020. Dalam presentasinya bertajuk Guru Harus Menulis, ia membuka mata para pendidik bahwa pena adalah alat perubahan yang tak kalah dahsyat dari sebatang kapur tulis.
“Menulis itu asik dan seru,” ungkap Mardi dalam satu workshop di SLB Negeri Pembina, Sabtu, tempo hari. Baginya, menulis adalah bentuk gerakan.
“Berlari selagi masih kuat, berjalan selagi mengumpul tenaga, merangkak selagi tak bertenaga — tetaplah bergerak,” kutipnya dari satu kalimat anonim, seakan mengingatkan bahwa menulis adalah langkah kecil yang bisa meninggalkan jejak besar.
Mengapa Guru Harus Menulis?
Dalam paparan tersebut, Mardi menyebut ada “999 alasan” mengapa menulis penting: dari menjadi bukti keahlian, media komunikasi, sarana refleksi diri, sampai menghasilkan cuan dan mengabadikan sejarah hidup. Seperti kata Pramoedya Ananta Toer: “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan sejarah.”
Guru adalah saksi hidup perjalanan generasi bangsa. Dari kelas ke kelas, dari ujian ke ujian, dari murid nakal hingga murid berprestasi — semua itu adalah cerita yang tak ternilai jika dituangkan dalam tulisan.
Menulis Itu Bisa Dimulai dari Hal Sederhana
Mardi mendorong guru untuk mulai dari yang paling dekat: pengalaman mengajar, hobi, pengamatan harian, atau bahkan mencurahkan isi hati.
“Tulisan bisa jadi buku, bisa jadi kado, bahkan bisa jadi jembatan pertemanan,” katanya.
Kuncinya: menulis, menulis, dan menulis. Tidak harus sempurna dari awal, yang penting memulai.
Ia pun memberikan panduan praktis: tentukan tema, buat outline sederhana, lalu tuangkan dalam paragraf yang mengalir. Proses menulis bisa dilakukan kapan saja, asal diberi waktu khusus—bahkan 30 menit per hari sudah cukup untuk membangun konsistensi.
Menulis adalah Cara Guru Menyapa Dunia
Seperti disampaikan Seno Gumira Ajidarma, “Menulis adalah cara untuk menyapa, menyentuh orang lain entah di mana.” Maka, ketika guru menulis, mereka sedang menyapa dunia dari ruang kelasnya.
Di tengah dinamika kurikulum dan beban administrasi, guru tetap punya ruang untuk menjadi penggerak perubahan. Tak hanya melalui suara di kelas, tetapi juga lewat kalimat-kalimat yang ditulis dengan hati. Dan ketika para guru mulai menulis, mereka sedang meninggalkan warisan (legasi) paling abadi: jejak pemikiran dan cerita yang tak lekang oleh waktu.
Jadi, guru harus menulis. Karena pendidikan bukan hanya soal transfer ilmu, tapi juga tentang merekam makna dan membagikannya kepada dunia.











