ARMADABERITA.COM | Paluta – Menjelang bulan suci Ramadan, ratusan warga Padang Lawas Utara (Paluta) memadati Sungai Batang Pane untuk menjalankan tradisi Marpangir. Tradisi ini merupakan ritual membersihkan diri dengan mandi di sungai dan makan bersama, yang masih terjaga sebagai bagian dari kearifan lokal masyarakat Tabagsel.
Meski debit air Sungai Batang Pane sedang meningkat, hal itu tidak menyurutkan antusiasme warga yang datang sejak siang hingga sore. Mereka berbondong-bondong menggunakan berbagai kendaraan, seperti mobil, sepeda motor, becak bermotor, dan angkutan umum. Tradisi ini diikuti oleh berbagai kalangan, mulai dari orang tua, muda-mudi, hingga anak-anak.
Wedi (35), salah satu warga yang datang bersama teman-temannya, mengatakan bahwa Sungai Batang Pane dipilih sebagai lokasi Marpangir karena jaraknya yang dekat dengan tempat tinggalnya.
“Ini rutin setiap tahun sebelum puasa, hanya untuk makan dan mandi bersama,” ujarnya, Jumat (28/2).
Sementara itu, Ikbal (31), mahasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta di Tapanuli Selatan, tetap menjalankan tradisi ini meskipun ada perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai Marpangir.
“Kami hanya ingin menikmati waktu bersama, memasak di pinggir sungai, dan bermain dengan teman-teman. Itu sudah membuat kami bahagia,” tuturnya.
Selain Sungai Batang Pane, tradisi serupa juga terlihat di Aek Batang Galoga, kawasan pemandian keluarga di tepi Jalan Lintas Halongonan-Sipiongot, Desa Pangirkiran. Sejak pagi hingga malam, lokasi ini dipadati warga dan mendapat pengawalan dari aparat keamanan. (*)











