Medan, ArmadaBerita.Com
Realisasi Mei 2021 mencatatkan inflasi di Sunatera Utara sebesar 0,22 (mtm). Realisasi inflasi ini masih relatif rendah dari rata-rata 3 tahun terakhir yang tercatat 0,29% meski arahnya telah sesuai.
“Sumber inflasi berasal dari kelompok Pakaian dan Alas Kaki terutama didorong oleh kenaikan harga sub kelompok Pakaian seperti baju anak, baju muslim wanita, dan mukena diprakirakan seiring meningkatnya permintaan menjelang lebaran,” kata Kepala BI Kpw Sumut, Soekowardojo kepada wartawan, Kamis (10/6/2021).
Di sisi lain, jelas Soekowardojo yang turut didampingi Deputi Kepala Perwakilan Andiwiana Septonarwanto, Deputi Kepala Perwakilan, Ibrahim dalam kegiatan Bincang-bincang Bersama Wartawan atau disingkat BBM itu, deflasi yang terjadi pada kelompok
Makanan, Minuman, dan Tembakau menahan laju inflasi lebih tinggi, dipicu oleh depresiasi harga cabai merah, cabai rawit, dan sawi hijau.
“Melimpahnya pasokan aneka cabai menyusul cuaca yang baik di tengah penurunan permintaan konsumen usai Lebaran menjadi penyebab utama penurunan harga aneka cabai. Hal serupa terjadi pada sawi hijau yang harganya turun seiring terjaganya pasokan dan penurunan permintaan konsumen pasca Idulfitri,” jelasnya.
Namun disebutkan Soekowardojo bahwa secara tahunan, tekanan inflasi menurun. Inflasi tahunan Sumut pada Mei 2021 sebesar 1,59% (yoy), menurun dari bulan sebelumnya yang tercatat 1,80% (yoy). Laju inflasi untuk masing-masing kelompok mengalami penurunan.
“Realisasi ini lebih rendah dari rerata 3 tahun terakhir sebesar 2,82% (yoy). Adapun tekanan inflasi utama masih bersumber dari kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau yaitu minyak goreng, ikan dencis, dan daging babi,” sebutnya.
Kepala BI Sumut memaparkan, pada saat itu, tren kenaikan CPO global yang masih berlanjut mendorong apresiasi minyak goreng. Sementara ikan dencis masih terpantau naik diprakirakan akibat aktivitas melaut nelayan yang belum kembali normal usai libur Lebaran. Adapun kenaikan daging babi dipicu oleh minimnya stok imbas mewabahnya penyakit African Swine Fever (ASF) yang menyerang populasi ternak babi di daerah sentra Sumatera.
Meski demikian, lanjut Kepala BI Sumut, inflasi bahan makanan masih terpantau dalam rentang sasaran. Ke depan inflasi 2021 akan lebih tinggi dari tahun sebelumnya namun masih berada pada rentang target nasional 3%±1% seiring perbaikan ekonomi serta didukung program vaksinasi yang telah berjalan.
“Inflasi Sumatera Utara tahun 2021 diperkirakan meningkat dari tahun 2020. Kenaikan tekanan inflasi seiring dengan membaiknya kondisi perekonomian didorong oleh peningkatan mobilitas masyarakat, permintaan domestik, dan harga komoditas global,” pungkasnya. (ASN)











