Labura, Armadaberita.com —Inovasi teknologi yang biasanya kita bayangkan hadir di kota besar kini merambah hingga ke pelosok, membawa harapan baru bagi peternak sapi di Labura.
Dengan aplikasi yang dikembangkan oleh tim peneliti IPB University, peternak di wilayah ini kini bisa mendeteksi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada sapi hanya melalui smartphone. Teknologi yang sebelumnya mungkin terasa jauh dari kehidupan sehari-hari peternak, kini ada di genggaman tangan mereka.
Aplikasi sistem pakar berbasis mobile ini bukan hanya alat canggih untuk diagnosis penyakit ternak, tetapi juga “penjaga pintu” bagi peternak agar tidak terjebak dalam permainan harga yang tidak adil dari pedagang.
Di Labura, PMK kerap menjadi masalah besar. Pedagang sering kali memanfaatkan situasi dengan membeli sapi terinfeksi dengan harga yang jauh lebih rendah dari standar pasar. Aplikasi ini mengubah dinamika tersebut. Peternak kini memiliki data yang jelas dan bisa menilai kondisi sapinya secara mandiri.
“Kami tidak lagi khawatir tertipu oleh pedagang,” ujar Legimin, seorang peternak yang sudah mencoba aplikasi ini. “Sekarang kami punya pegangan untuk mengetahui kondisi sapi kami secara akurat.”
Inovasi ini bukan hanya soal teknologi, tetapi juga perubahan cara peternak berinteraksi dengan pasar. Mereka yang dulu sepenuhnya bergantung pada penilaian pedagang, kini memiliki kontrol lebih besar atas usaha peternakan mereka. Kepala Dinas Pertanian Labura, drh. Sudarija, yang juga alumni IPB, menilai aplikasi ini sebagai langkah besar untuk memperkuat daya saing peternak lokal di era digital.
Di balik teknologi canggih ini, ada semangat “pulang kampung” dari para peneliti IPB yang ingin mengabdikan ilmu mereka kepada masyarakat. Lailan Sahrina Hasibuan, ketua tim pengembang aplikasi, menekankan pentingnya membawa inovasi teknologi ke wilayah yang jauh dari akses perkotaan.
“Kami ingin teknologi tidak hanya dinikmati oleh mereka yang ada di kota besar, tetapi juga bisa menyentuh dan memberdayakan peternak di daerah terpencil seperti Labura,” ujar Lailan.
Dengan aplikasi ini, peternakan di Labura tidak hanya lebih siap menghadapi ancaman penyakit, tetapi juga mampu memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan daya tawar dan keberlanjutan usaha mereka. Teknologi ini seakan menjadi tameng baru yang melindungi peternak dari ancaman tidak hanya penyakit, tetapi juga ketidakadilan ekonomi. (Dedy Hutajulu)











