Daerah  

Abrasi Sungai Picu Kecemasan Warga Kampung Lama, Trauma Banjir Bandang Masih Membekas

Share

Armadaberita.com, Besitang — Trauma akibat banjir bandang yang melanda Kecamatan Besitang pada 26 November 2025 masih dirasakan warga Lingkungan IV, Kelurahan Kampung Lama. Bencana yang merusak ratusan rumah dan menewaskan belasan orang itu kini disusul ancaman baru berupa abrasi Sungai Besitang yang terus menggerus permukiman warga.

Abrasi dilaporkan terjadi sepanjang ratusan meter di kawasan daerah aliran sungai. Saat banjir bandang terjadi, derasnya arus air mengikis tebing sungai hingga menyeret lahan permukiman warga dan tanaman di kebun ke aliran sungai.

Ridwan, 55 tahun, warga setempat, mengatakan abrasi sebenarnya sudah berlangsung lama, namun kondisinya semakin parah setelah banjir bandang pada November lalu. Menurut dia, sejumlah lahan permukiman warga runtuh ke sungai dan hingga kini pengikisan belum berhenti.

“Pengikisan tebing sungai ini sudah terjadi sejak lama. Setelah banjir bandang kemarin kondisinya jauh lebih parah,” kata Ridwan, Selasa, 31 Desember 2025.

Ia menyebut abrasi yang terus berlangsung membuat luas lahan permukiman semakin menyusut dan mengancam rumah-rumah yang masih berdiri di bantaran sungai. Dalam banjir bandang November 2025, sekitar 13 rumah warga di kawasan tersebut hanyut terseret arus.

Warga berharap pemerintah tidak hanya fokus pada penanganan rumah yang rusak, tetapi juga melakukan langkah pencegahan agar bencana serupa tidak terulang. Mereka meminta pembangunan bronjong di sepanjang bantaran sungai serta normalisasi Sungai Besitang.

“Kami berharap ada pembangunan bronjong sekitar 500 meter dan normalisasi sungai supaya abrasi dan banjir tidak terus berulang,” ujar Ridwan.

Ia juga mengatakan Sungai Besitang telah mengalami pendangkalan sejak banjir besar pada 2006. Pada 2024, petugas dari Pemerintah Provinsi Sumatera Utara sempat melakukan peninjauan dan pengukuran di lokasi tersebut.

“Saat itu disampaikan rencana pembangunan tanggul atau benteng sungai sepanjang kurang lebih lima kilometer agar air tidak meluap ke permukiman. Tapi sampai sekarang belum ada realisasinya,” kata dia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *