NEWS  

Puluhan Santri Diduga Keracunan Usai Peringatan Hari Santri di Deli Serdang

Sebanyak 22 santri dan santriwati Pondok Pesantren Mazilah Darussalam diduga mengalami keracunan.
Share

Deli Serdang, ArmadaBerita.Com – Peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, yang semestinya menjadi momentum kebersamaan justru menyisakan persoalan serius. Sebanyak 22 santri dan santriwati Pondok Pesantren Mazilah Darussalam diduga mengalami keracunan setelah menyantap makanan yang disediakan dalam kegiatan tersebut, Kamis (22/10/2026).

Peristiwa ini membuat para santri harus mendapatkan penanganan medis di sejumlah rumah sakit. Dugaan keracunan mencuat setelah mereka mengalami gangguan kesehatan beberapa jam setelah mengikuti kegiatan yang diselenggarakan di Kantor Bupati Deli Serdang, Lubuk Pakam.

Pimpinan Pondok Pesantren Mazilah Darussalam, Ustadz Dahrul Yusuf, menuturkan bahwa dirinya bersama para santri berangkat menuju lokasi kegiatan sekitar pukul 06.00 WIB. Acara tersebut diikuti perwakilan puluhan pondok pesantren.

Pada sekitar pukul 12.00 WIB, para peserta mendapatkan makan siang yang disediakan dalam kegiatan peringatan Hari Santri Nasional. Saat makanan dibagikan dan dikonsumsi, belum ada kejadian mencurigakan yang mereka ketahui.

Namun, situasi mulai berubah ketika memasuki waktu petang. Menurut Dahrul, sejumlah santri mulai mengeluhkan sakit perut dan kondisi tubuh yang tidak nyaman sekitar waktu Magrib.

Awalnya, gangguan kesehatan tersebut belum langsung diketahui sebagai persoalan yang dialami banyak santri. Kecurigaan baru menguat menjelang pagi, Jumat (23/10/2026), ketika para santri tidak kunjung datang ke masjid untuk melaksanakan salat Subuh.

Setelah melakukan pengecekan, pengurus pesantren mendapati sejumlah anak didik mereka dalam kondisi lemah. Menyadari keadaan tersebut membutuhkan penanganan segera, Dahrul membawa para santri yang mengalami gejala ke fasilitas kesehatan.

Sebanyak 22 santri dan santriwati kemudian mendapatkan penanganan di tiga rumah sakit berbeda, termasuk Rumah Sakit Madani dan dua rumah sakit lainnya di kawasan Saentis. Informasi mengenai kondisi terkini seluruh pasien masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut.

Di tengah situasi tersebut, Dahrul berinisiatif mencari tahu apakah santri dari pondok pesantren lain yang mengikuti kegiatan serupa juga mengalami keluhan kesehatan. Ia menyampaikan pertanyaan melalui salah satu grup WhatsApp yang beranggotakan pengurus pondok pesantren.

Menurut Dahrul, sejumlah pengurus pesantren lain kemudian menyampaikan bahwa anak didik mereka juga mengalami keluhan serupa. Informasi itu memperkuat dugaan adanya kemungkinan keterkaitan antara kejadian tersebut dan konsumsi makanan saat kegiatan Hari Santri.

Perhatian pun mulai tertuju pada makanan yang dibagikan kepada para peserta. Dahrul mengungkapkan bahwa lauk ikan nila yang diterima santrinya saat makan siang diduga berada dalam kondisi kurang layak.

Menurut keterangannya, ikan nila tersebut berlendir dan mengeluarkan sedikit bau tidak sedap. Kondisi itu menjadi salah satu alasan yang membuatnya mencurigai makanan yang dikonsumsi para santri sebelum gejala mulai muncul pada petang hari.

Meski demikian, kondisi ikan sebagaimana dituturkan Dahrul belum membuktikan bahwa lauk tersebut merupakan penyebab keracunan. Kepastian penyebab memerlukan pemeriksaan medis, penelusuran riwayat konsumsi, serta pengujian sampel makanan apabila diperlukan.

Keluhan yang juga dilaporkan dari pesantren lain membuat penelusuran kejadian ini semakin penting. Namun, jumlah korban dari lembaga pendidikan lain belum dapat dipastikan secara menyeluruh sehingga angka 22 dalam laporan ini merujuk pada santri dan santriwati dari Pondok Pesantren Mazilah Darussalam.

Selain kondisi makanan, proses penyediaan konsumsi bagi peserta juga perlu ditelusuri. Pemeriksaan dapat mencakup asal bahan makanan, pengolahan, penyimpanan, pengemasan, hingga distribusi kepada para peserta kegiatan.

Pemerintah Kabupaten Deli Serdang melalui unsur terkait perlu memberikan penjelasan mengenai penyediaan konsumsi dan langkah penanganan yang dilakukan. Keterangan dari penyelenggara, petugas kesehatan, serta hasil pemeriksaan yang berwenang diperlukan agar penyebab kejadian dapat diketahui secara objektif.

Pengurus pesantren juga mengharapkan kejelasan mengenai peristiwa yang menimpa para santri. Namun, penetapan tanggung jawab pihak tertentu tetap harus didasarkan pada hasil pemeriksaan dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.

Hingga informasi awal kejadian ini dihimpun, penyebab pasti gangguan kesehatan tersebut belum dapat dipastikan melalui hasil laboratorium yang dipublikasikan. Perkembangan kondisi para korban, hasil penelusuran makanan, dan keterangan resmi pihak terkait masih diperlukan untuk melengkapi informasi.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa keamanan makanan harus menjadi perhatian utama dalam setiap kegiatan yang melibatkan banyak orang. Di balik sorotan terhadap ikan nila yang dilaporkan berlendir dan berbau, publik menanti jawaban atas pertanyaan mendasar: apa penyebab 22 santri dan santriwati jatuh sakit, dan langkah apa yang akan diambil agar kejadian serupa tidak terulang? (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *