Tafahum Sumut Hadir Untuk Umat, Tuntaskan Fardu Kifayah Tanpa Mengenal Waktu

Tafahum Sumut dibantu pihak heluargan dan masyarakat membantu mengangkat keranda jenazah almarhumah ke tempat pemahaman. (Foto: Dok. ABC)
Share

Deli Serdang, ArmadaBerita.Com — Kematian tidak mengenal waktu dan usia. Ketika seseorang berpulang ke rahmatullah, ada kewajiban agama yang harus ditunaikan oleh umat Islam, yakni fardu kifayah. Di tengah duka keluarga yang ditinggalkan, kehadiran mereka yang bersedia membantu menjadi wujud nyata kepedulian, persaudaraan, dan pengabdian kepada sesama.

Komitmen tersebut kembali ditunjukkan Komunitas Tafahum Sumatera Utara (Tafahum Sumut) pada Sabtu, 17 Oktober 2026. Komunitas ini menerima permohonan bantuan dari Wakil Ketua Serikat Tolong Menolong (STM) setempat, Ahmad Husin, di kawasan Pasar 5 Helvetia, Deli Serdang, untuk membantu pelaksanaan fardu kifayah almarhumah Niscaya Indah binti Bunyamin, yang meninggal dunia pada usia 25 tahun.

Merespons permohonan tersebut, Tafahum Sumut segera mengerahkan lima anggota, yakni Khaila, Kak Yani, Mr Joy, Amri, serta Ketua Tafahum Sumut, Drs. Zakaria Koto ZA. Khaila dan Kak Yani menangani pengurusan jenazah, sementara anggota lainnya membantu pendampingan keluarga dan kelancaran proses hingga pemakaman.

Pengurusan jenazah dimulai sekitar pukul 20.30 WIB dan berlangsung lancar berkat kerja sama tim Tafahum Sumut, keluarga almarhumah, pengurus STM setempat, serta pihak-pihak yang turut membantu. Ambulans PKS Kota Medan turut mengantarkan jenazah menuju pemakaman umum di kawasan Pasar 5 Helvetia. Seluruh rangkaian kegiatan selesai sekitar pukul 22.30 WIB.

Ketua Tafahum Sumut, Al Ustadz Drs. Zakaria Koto ZA, menegaskan bahwa kesediaan membantu pelaksanaan fardu kifayah merupakan bagian dari komitmen komunitas dalam melayani umat. Baginya, kewajiban tersebut tidak semestinya terhalang oleh waktu ketika masyarakat membutuhkan pertolongan.

“Bagi kami, fardu kifayah bukan sekadar kegiatan sosial, melainkan kewajiban keagamaan yang harus kita tunaikan bersama. Ketika umat membutuhkan bantuan, Tafahum Sumut berupaya hadir dan membantu sebaik mungkin, meskipun pelaksanaannya berlangsung pada malam hari,” demikian usulan pernyataan yang dapat dikonfirmasikan kepada Zakaria.

Di balik kelancaran proses tersebut, terdapat kesedihan yang menyentuh hati. Almarhumah meninggalkan seorang bayi perempuan berusia sekitar tujuh bulan yang masih sangat membutuhkan kasih sayang dan dekapan ibunya. Keadaan itu mengundang keprihatinan keluarga dan masyarakat yang hadir.

Zakaria memandang peristiwa tersebut sebagai pengingat tentang keterbatasan manusia dan pentingnya kepedulian terhadap sesama. “Kematian adalah ketetapan Allah SWT. Sebagai sesama manusia dan saudara seiman, yang dapat kita lakukan adalah menunaikan kewajiban terhadap almarhumah, mendoakannya, serta membantu keluarga yang sedang menghadapi musibah,” sebut Zakaria Koto.

Meski dilaksanakan pada malam hari, lebih dari seratus orang turut menyalatkan jenazah. Sejumlah warga juga mengantarkan almarhumah ke tempat peristirahatan terakhirnya. Kehadiran masyarakat tersebut memperlihatkan kuatnya semangat persaudaraan dan gotong royong dalam menunaikan kewajiban agama.

Bagi Tafahum Sumut, salat jenazah dan pengantaran ke pemakaman bukan sekadar rangkaian ritual, tetapi juga bentuk penghormatan terakhir kepada seorang muslim yang telah meninggal dunia. Doa dan dukungan masyarakat diharapkan dapat menguatkan keluarga yang ditinggalkan.

“Kami berharap semangat gotong royong dalam pelaksanaan fardu kifayah terus terjaga. Ini merupakan tanggung jawab bersama umat Islam. Organisasi dan komunitas sosial keagamaan harus mampu memberikan manfaat nyata, terutama ketika masyarakat sedang menghadapi musibah,” kata Zakaria kepada wartawan, Minggu (18/10/2026).

Wakil Ketua STM setempat, Ahmad Husin, yang turut mewakili keluarga duka, menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang membantu proses fardu kifayah. Ia secara khusus mengapresiasi Komunitas Tafahum Peduli Umat Sumatera Utara atas kepedulian dan kesediaannya membantu meskipun kegiatan berlangsung pada malam hari.

Peristiwa ini menegaskan makna semboyan Tafahum Sumut, “Membersamai Umat dalam Menyelesaikan Fardu Kifayah.” Pengabdian tidak selalu diwujudkan melalui kegiatan besar, tetapi juga melalui kesediaan hadir, membantu, dan melayani ketika umat membutuhkan, tanpa mengenal siang ataupun malam.

Semoga Allah SWT menerima amal kebaikan seluruh pihak yang terlibat, mengampuni dosa almarhumah Niscaya Indah binti Bunyamin, serta menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran dan keteguhan hati, serta bayi perempuan berusia tujuh bulan tersebut tumbuh menjadi anak salehah yang memperoleh kasih sayang dan perlindungan. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *