New Delhi, ArmadaBerita.Com — Konferensi internasional Brihattar Bharat di New Delhi berakhir hari ini dengan pujian dari para peserta mancanegara. Selama tiga hari, peneliti dari Eropa, Asia, dan Amerika bertukar temuan tentang jejak hubungan budaya India dengan berbagai belahan dunia, dari Transilvania di Rumania sampai pelabuhan-pelabuhan kuno di Nusantara. (16/10/2026)
Konferensi di Vigyan Bhawan ini digelar oleh Indira Gandhi National Centre for the Arts (IGNCA) sebagai peringatan seratus tahun Greater India Society, yang berdiri di Kalkuta pada 14 Oktober 1926. Perkumpulan itu dulu menjadi pelopor kajian hubungan India dengan Asia, dan Rabindranath Tagore menjadi pembimbing spiritualnya.
Salah satu pujian paling hangat datang dari Mihaela Gligor, peneliti Universitas Babeș-Bolyai di Cluj, Rumania. Ia sudah bolak-balik ke India sejak 2007 dan mengikuti banyak konferensi. “Tetapi yang ini, sejauh ini, yang terbaik. Panitianya luar biasa, orang-orangnya ramah, relawannya hebat. Saya siap ikut di acara-acara berikutnya,” ujarnya.
Dalam makalahnya, Mihaela memaparkan kiprah Cluj Centre for Indian Studies yang berdiri sejak 2014. Ia memilih tidak memandang India sebagai sumber budaya yang mengalir satu arah, melainkan menelusuri hubungan India dan Rumania lewat lembaga, teks, dan program pendidikan yang nyata. “Sudah saatnya menempatkan Rumania di peta pengaruh India di dunia,” katanya.
Dari Indonesia, H. Sariat Arifia dari Universitas Al-Azhar Indonesia membawa bukti dari batu nisan. Ia membandingkan inskripsi nisan Islam abad ke-13 hingga ke-15 di Sumatra, Jawa, dan Kalimantan dengan nisan sezaman di Gujarat dan Delhi. Penelitiannya menunjukkan bahwa gelar dan jabatan seperti raja, laksamana, syahbandar, dan nakhoda menyeberangi Samudra Hindia, lalu diolah dan diberi makna baru oleh masyarakat Nusantara.
“Konferensi ini benar-benar spektakuler. Puluhan profesor dan ratusan peneliti doktoral berkumpul, dengan bidang yang sangat luas, dari arkeologi, agama, arsitektur, kemaritiman, perdagangan, sampai hukum. Bentangannya dari Roma sampai Cina. Dari sini kita bisa melihat gambaran besar peradaban manusia sebagai satu keluarga,” ujar Sariat.
Pandangan itu disambut Dr. Gautam Kumar Jha dari Jawaharlal Nehru University (JNU). Dalam konferensi ini ia memaparkan kajian tentang unsur-unsur budaya India dalam seni pertunjukan Indonesia, dari penyebaran, penyesuaian, hingga perubahannya di tangan masyarakat setempat. Ia juga ikut menulis kajian tentang pertukaran budaya dan ekonomi India–Indonesia.
Menurut Gautam, konferensi ini membuka babak baru kerja sama kedua negara. “Ke depan kita bisa menjalankan proyek-proyek bersama tentang unsur-unsur sejarah yang sama. Ini kesempatan luar biasa bagi sarjana dan profesor Indonesia,” ujarnya.
Dalam pidato penutupan, Prof. (Dr.) D.C. Choubey dari IGNCA secara khusus berterima kasih kepada para delegasi asing yang datang ke New Delhi. Ia lalu mengajak hadirin mengenang para pendahulu yang menempuh perjalanan berbahaya demi ilmu, seperti Xuanzang, yang melintasi laut, dataran, dan hutan selama bertahun-tahun dan baru pulang setelah tujuannya tercapai.
Bagi Choubey, para peserta hari ini adalah penerus jejak para pengelana itu. “Saya memberikan salam hormat kepada para pelopor dan para pengelana hebat tersebut,” katanya. “Terima kasih kepada Anda sekalian yang telah datang dari luar negeri maupun dari berbagai penjuru India. Sampai jumpa lagi.*











