Medan, ArmadaBerita.Com – Kain ulos dan wastra tradisional lainnya dinilai memiliki peluang besar untuk menembus pasar fesyen internasional. Melalui inovasi desain dan penguatan pasar domestik, kekayaan budaya tersebut diharapkan mampu meningkatkan daya saing desainer lokal sekaligus membuka peluang ekonomi bagi pelaku industri kreatif.
Peluang itu menjadi salah satu sorotan dalam pembukaan Medan Fashion & Culture Festival (MFCF) 2026 bertema Ulos in Innovation di Main Atrium Sun Plaza Medan, Selasa (13/10/2026). Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas membuka festival yang berlangsung hingga 18 Oktober tersebut.
Rico menilai kain tradisional Indonesia memiliki nilai lebih dari sekadar keindahan motif. Sejarah, identitas, dan kekuatan budaya yang melekat di dalamnya menjadi modal untuk menghasilkan produk fesyen yang memiliki karakter dan daya saing di pasar global.
“Baju-baju lokal kita, kain-kain lokal tradisional kita ini harganya sesungguhnya tidak terhingga karena memiliki akar budaya yang sangat kuat. Saya sangat meyakini kain-kain lokal kita ini mampu menembus pasar internasional,” ujar Rico.
Menurutnya, keberagaman wastra, mulai dari ulos, kain Melayu, Karo, Minang, Riau hingga batik, perlu terus diperkenalkan melalui kreativitas dan inovasi desain. Upaya tersebut juga perlu ditopang pasar dalam negeri dengan meningkatkan kebanggaan masyarakat terhadap produk karya desainer Indonesia.
“Kota Medan harus bisa menjadi raja untuk kotanya sendiri. Penting bagi kita membiasakan diri memakai baju-baju karya lokal kita dan membeli produk-produk desainer lokal kita,” tegasnya.
Dari sisi pengembangan industri, Ketua Pelaksana MFCF 2026 yang juga Kepala Dinas Pariwisata Kota Medan, M. Odi Anggia Batubara, mengatakan festival ini melibatkan delapan desainer lokal dan dua desainer nasional.
Menurut Odi, industri fesyen memiliki rantai usaha yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari pengrajin kain dan penyedia bahan hingga desainer dan konsumen. Karena itu, pengembangan subsektor ini berpotensi memperluas pemasaran produk kreatif sekaligus membuka peluang ekonomi bagi pelaku usaha yang terlibat.
Selama enam hari, MFCF 2026 menghadirkan peragaan busana, diskusi mengenai ulos dan kriya, kompetisi peragaan busana anak dan remaja, serta pertunjukan musik. Agenda bertema Hari Ulos juga dijadwalkan berlangsung pada 17 Oktober.
Sejumlah desainer yang berpartisipasi antara lain Torang Sitorus, Wieke Dwiharti, Yuni Pohan, Haze Be Wear, Isye Siregar, Mojo Kebaya, Feby Ayang, Yenti Lim, Nadia Azhari, Sadina, dan Deti Fitri.
Melalui festival ini, ulos diharapkan tidak hanya semakin dikenal sebagai warisan budaya, tetapi juga berkembang menjadi produk fesyen yang memiliki nilai tambah dan mampu memperluas peluang pasar bagi industri kreatif Medan. (Novian)











