MEDAN, ARMADABERITA — Jurnalis kini tidak cukup hanya memeriksa benar atau salahnya sebuah informasi. Di tengah derasnya arus konten digital, mereka juga dituntut mampu menelusuri siapa yang membuat, bagaimana informasi disebarkan, serta kepentingan di balik konten yang berpotensi memengaruhi persepsi publik.
Kemampuan tersebut menjadi salah satu materi dalam workshop ketahanan menghadapi manipulasi informasi yang digelar Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia bersama AJI Medan di Medan, 3-4 Oktober 2026.
Workshop yang mendapat dukungan Kedutaan Besar Polandia di Jakarta itu diikuti jurnalis dari empat provinsi, yakni Sumatera Utara, Aceh, Riau, dan Sumatera Barat.
Ketua AJI Medan Tonggo Simangunsong mengatakan, derasnya manipulasi informasi membuat jurnalis dan media perlu memiliki kemampuan lebih dalam menganalisis informasi sebelum menyebarkannya kepada publik.
“Pelatihan ini sangat berguna bagi jurnalis dan media untuk menghadapi derasnya manipulasi informasi yang dapat mempengaruhi persepsi publik,” kata Tonggo saat membuka workshop.
Menurut dia, kemampuan tersebut semakin penting bagi jurnalis dan editor yang bekerja di ruang redaksi digital. Mereka tidak hanya dituntut cepat dalam menyajikan informasi, tetapi juga harus mampu memastikan informasi yang diterima audiens tidak berasal dari konten manipulatif.
“Dari pelatihan ini diharapkan teman-teman jurnalis dan editor, khususnya yang bekerja di ruang redaksi digital, mampu lebih jeli menganalisis informasi untuk disebarkan ke publik dan justru tidak termakan informasi manipulatif yang merugikan audiens ketika mengakses informasi yang tidak akurat,” ujarnya.
Dalam workshop itu, pemateri dari AJI Indonesia, Bayu Wardhana dan Geril Dwira, membekali peserta dengan metode untuk mengenali dan menganalisis manipulasi informasi yang beredar melalui media sosial maupun media arus utama.
Peserta tidak hanya mempelajari karakteristik konten manipulatif, tetapi juga diajak mengidentifikasi aktor, perilaku, konten, dan dampak dari penyebaran informasi tersebut.
Salah satu contoh yang dibahas adalah informasi terkait perang Rusia-Ukraina yang dapat membentuk persepsi masyarakat Indonesia. Bayu menjelaskan, manipulasi informasi semacam itu dapat masuk dalam kategori Foreign Information Manipulation and Interference (FIMI), yakni informasi dari luar negeri yang ditujukan untuk memengaruhi persepsi masyarakat di dalam negeri.
Adapun manipulasi informasi yang bersumber dari isu domestik untuk memengaruhi persepsi publik di dalam negeri disebut Domestic Information Manipulation and Interference.
“Ini adalah salah satu contoh FIMI yang mempengaruhi persepsi orang Indonesia terhadap perang Rusia-Ukraina. Melalui penggunaan perangkat-perangkat open source, jurnalis dapat menganalisis dan mengidentifikasi siapa pelakunya, bagaimana itu dilakukan, dan dampaknya,” ujar Bayu.
Bayu juga memberikan contoh manipulasi informasi dalam isu domestik melalui konten berbasis artificial intelligence (AI) yang berkaitan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG), termasuk penyebaran konten menggunakan tagar #LanjutkanMBG.
Menurut Bayu, perangkat open source dapat digunakan jurnalis untuk menelusuri penggunaan sebuah tagar dan mengidentifikasi pola penyebarannya.
“Dengan melacak penggunaan tagar di mesin pencari open source, kita bisa melacak siapa pelakunya dan apa tujuan penyebaran informasi itu,” ujarnya.
Sementara itu, Geril mengajarkan metode Open Source Intelligence (OSINT), yakni pendekatan jurnalistik dengan memanfaatkan sumber dan perangkat terbuka di internet untuk mendapatkan serta menganalisis data.
Peserta dilatih menggunakan sejumlah tools untuk memperoleh data terbuka, termasuk menelusuri penggunaan tagar dan mengenali konten yang dibuat menggunakan AI.
“Misalnya jumlah tagar #LanjutkanMBG itu bisa didapatkan menggunakan tool open source, juga berbagai fitur untuk mengenali konten-konten yang dibuat dengan AI,” kata Geril.
Bagi peserta, kemampuan tersebut dibutuhkan agar jurnalis tidak hanya menjadi penerima informasi yang beredar di ruang digital.
Salah satu peserta dari Medan, Ariwibowo, mengatakan workshop tersebut memberikan pengetahuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis informasi manipulatif yang berasal dari dalam maupun luar negeri.
“Pelatihan ini sangat penting untuk menambah literasi kawan-kawan jurnalis untuk menghadapi era digital yang saat ini tengah kita alami, dan membuat justru tidak terikut dengan isu yang ternyata ditimbulkan (ada kepentingan) oleh pihak lain,” ujarnya.
Workshop di Medan merupakan bagian dari kegiatan AJI Indonesia dalam meningkatkan kapasitas jurnalis menghadapi manipulasi informasi. Sebelumnya, kegiatan serupa telah digelar di Denpasar, Bali.











